MENJADI PELATIH PADUAN SUARA GEREJA

SIAPAKAH PELATIH PADUAN SUARA GEREJA ?

Pelatih Paduan Suara/Koor adalah seseorang yang ditunjuk untuk memberikan latihan kepada paduan suara (gereja) dalam hal teknik vokal, interpretasi lagu, aba-aba, sekaligus membina paduan suara yang dilatihnya.

Idealnya pelatih adalah dirigen paduan suara tersebut. Namun kenyataannya, karena keterbatasan sumberdaya paduan suara, fungsi dirigen sekaligus sebagai pelatih dipisahkan. Maka, akan terdapat :
• Dirigen sekaligus Pelatih,
• Pelatih merangkap Dirigen, dan
• Pelatih bukan Dirigen.
Ketiga tipe pelatih tersebut memiliki konsekuensi-konsekuensi kelebihan dan kelemahan masing-masing.

DIRIGEN SEKALIGUS PELATIH
Dirigen sekaligus pelatih adalah seseorang yang berasal dari paduan suara tersebut. Ia adalah seseorang yang dianggap pantas melatih sekaligus memimpin paduan suara tersebut. Ia dianggap pantas memimpin karena dianggap ‘lebih’ daripada anggota yang lain dalam hal teknik vokal, bisa memberikan aba-aba dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Kelebihan :
• Dengan terus menerus berada di paduansuaranya, ia mengerti dinamika organisasi paduan suara tersebut.
• Ia adalah warga ‘asli’ paduan suara di lingkungan/wilayah/paroki tersebut sehingga ia dapat bertugas setiap saat dibutuhkan.

Kelemahan :
• Apabila tidak mau terus belajar dan mengembangkan diri, kualitas paduan suara yang dipimpinnya akan ‘segitu-segitu saja’ atau stagnan.
• Apabila tidak ada kader dirigen, maka hidup paduan suara itu akan tergantung sepenuhnya dari dirigen sekaligus pelatih tersebut.

Usulan :
• Dirigen sekaligus pelatih tersebut senantiasa belajar dan meningkatkan ketrampilannya.
• Bentuk tim dirigen yang bisa bertugas bergantian agar ada regenerasi.

PELATIH MERANGKAP DIRIGEN
Pelatih merangkap Dirigen adalah seseorang yang bukan berasal dari paduan suara yang dilatih. Ia bisa berasal dari paroki yang sama atau dari paroki yang berbeda.
Ia diminta melatih sekaligus merangkap menjadi dirigen karena paduan suara tersebut tidak atau belum memiliki pelatih sekaligus dirigen yang dianggap pantas.

Kelebihan :
• Secara praktis dan dalam jangka pendek, paduan suara tersebut dipimpin pelatih sekaligus dirigen yang handal.

Kelemahan :
• Karena bukan berasal dari paduan suara yang dipimpinnya, belum tentu ia mengerti dinamika organisasi paduan suara tersebut.
• Apabila tidak ada kader dirigen, maka hidup paduan suara itu akan tergantung sepenuhnya dari dirigennya.
• Apabila ia juga melatih dan menjadi dirigen di tempat/paroki lain, bisa terjadi jadwal tugasnya bersamaan dan ada yang dikorbankan.

Usulan :
• Paduan Suara membentuk kader dirigen yang dilatih dan diberi kesempatan bertugas.
• Dalam jangka panjang paduan suara tersebut memiliki dirigen sekaligus pelatih yang handal.

PELATIH BUKAN DIRIGEN
Pelatih bukan Dirigen adalah seseorang yang bukan berasal dari paduan suara yang dilatih. Ia bisa berasal dari paroki yang sama atau dari paroki yang berbeda.
Ia diminta melatih karena dirigen paduan suara tersebut merasa perlu didampingi seorang pelatih paduan suara yang dianggap lebih handal.

Kelebihan :
• Pelatih dapat mentransfer pengetahuan dan ketrampilannya kepada dirigen sehingga ada kaderisasi.
• Pelatih dapat berbagi tugas dengan dirigen dalam hal urusan-urusan teknis dan dinamika organisasi.
• Jadwal pelayanan tidak terganggu oleh ketidakhadiran pelatih, karena yang bertugas adalah dirigen.

Kelemahan :
• Perlu dihindari dirigen hanya sebagai ‘boneka’ dari pelatih.
• Karena bukan berasal dari paduan suara yang dipimpinnya, belum tentu pelatih mengerti dinamika organisasi paduan suara tersebut.

Usulan :
• Pelatih hanya menjadi fasilitator teknik vokal dan sahabat diskusi dirigen. Pilihan lagu dan interpretasinya dikerjakan bersama-sama.
• Secepatnya dirigen mandiri dan tidak bergantung terus dengan pelatih.
• Bentuk tim dirigen agar ada kaderisasi.

BAGAIMANA MENJADI PELATIH PADUAN SUARA GEREJA YANG HANDAL ?

Seorang Pelatih Paduan Suara Gereja setidaknya harus memiliki 4 aspek penting:

1. PENGETAHUAN
2. KETRAMPILAN TEKNIS
3. SIKAP
4. PERASAAN MUSIK

PENGETAHUAN :
Pelatih Paduan Suara harus memiliki pengetahuan tentang Musik dan Liturgi. Pengetahuan Musik (setidaknya tingkat dasar-menengah) antara lain : Sejarah Musik, Teori Musik, Teori dan Teknik Vokal, Teknik Aba-aba.
Pelatih Paduan Suara Gereja juga wajib mengetahui tentang liturg. Misalnya lagu apa yang boleh dan tidak boleh dinyanyikan dalam liturgi ekaristi kudus.

Pelatih paduan suara juga dituntut untuk mengetahui apakah lagu yang akan dinyanyikan beres (struktur, syair, aransemen)

Pelatih Paduan suara juga wajib memiliki pengetahuan teori dan teknik memimpin dan mengelola paduan suara

KETRAMPILAN TEKNIS
Pelatih Paduan Suara Gereja wajib memiliki ketrampilan melatih teknik vokal, dan aba-aba.

Ia dapat memberikan contoh vokal yang baik dan benar kepada para anggota paduan suara yang dilatih. Juga, ia dapat memberikan aba-aba yang benar saat melatih.

SIKAP
Seorang Pelatih paduan suara adalah pelayan dari paduan suara yang dilatihnya. Maka, ia harus bersikap rendah hati, meskipun dianggap memiliki kemampuan lebih dibanding yang dilatih. Ia harus ramah dan mau membantu anggota paduan suara yang dilatihnya.

Pelatih harus disiplin, dan berusaha datang latihan tepat waktu, serta segera memberi kabar apabila terlambat datang atau karena sesuatu hal ia tidak bisa hadir.
Singkatnya, ia harus memberi contoh paduan suara yang dilatihnya.

PERASAAN MUSIK
Karena musik tidak hanya terdiri dari aspek teknis semata, seorang pelatih paduan suara wajib memiliki kepekaan rasa seni musik yang tinggi. Dengan kata lain, ia wajib memiliki musikalitas yang memadahi.

Bagaimanakah pelatih paduan suara Anda ????

0 komentar: